MODUL 3.1.a.10
Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran
di SD Negeri Wonokarang - Balongbendo - Sidoarjo
A. PERISTIWA (FACTS)
Latar Belakang Situasi
Berdasarkan surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kabupaten Sidoarjo nomor 421/1141/438.5.1/2022 tertanggal 29 Maret 2022,
perihal Pemberitahuan Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas sesuai
Inmendagri Nomor 18 Tahun 2022 pada satuan pendidikan di Kabupaten Sidoarjo.
Pelaksanaan pembelajaran tatap muka diatur dengan ketentuan dilaksanakan setiap
hari, dengan jumlah peserta didik 100% (seratus persen) dari kapasitas ruang
kelas dan lama belajar paling banyak 6 (enam) jam pelajaran per hari. Dengan
kondisi ini dapat dilihat kemampuan masing-masing murid, baik secara akademik
ataupun sosial emosional menunjukkan perbedaan. Terlebih setelah kegiatan pembelajaran
yang dilakukan secara daring (online) selama kurang lebih 3 (tiga)
semester lamanya, menyebabkan kehadiran murid belum maksimal semuanya, murid
masih terlihat menunjukkan santai dalam belajar belum sepenuhnya hilang dan
beralasan tidak masuk sekolah dulu. Sehingga saya sebagai guru dan wali kelas
III, harus dapat memetakan kemampuan masing-masing murid tersebut, agar mereka
mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
Seiring berjalannya kegiatan
PTM terbatas ini, saya mendapatkan keluhan dari orangtua/walimurid. Karena
anaknya tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengikuti
pembelajaran yang di kelas dan lebih senang daring (online), dengan
alasan lebih santai serta bisa dibantu orangtua dalam menyelesaikan tugasnya.
Hal ini semakin meyakinkan saya untuk melakukan dan menerapkan pembelajaran
yang berdiferensiasi dengan kompetensi sosial emosional, seperti apa yang sudah
saya dapatkan dalam paket modul sebelumnya.
Alasan Melakukan Aksi Nyata
Dari hal yang saya paparkan dalam latar belakang, situasi
ini merupakan dilema bagi saya selaku guru dan wali kelas III. Karena adanya
anak yang tidak mau untuk berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa
mengerjakan tugas di kelas tanpa bantuan orangtuanya. Oleh karena itu, saya
berdiskusi dengan Kepala Sekolah, rekan sejawat yang juga CGP dan satu rekan
guru mapel untuk mendapatkan solusi dari dilema yang saya hadapi di kelas ini.
Rekan guru mapel ini (Guru PAI) merupakan sebagai pembanding atau memberikan
tambahan informasi juga bagi saya, apakah si anak ini ketika mata pelajaran
lainnya juga melakukan demikian (tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan
takut tidak bisa mengikuti pembelajaran).
Dalam hal ini, saya harus
memilih diantara dua pilihan, dimana dua pilihan itu benar secara moral tetapi
bertentangan (benar vs benar), yakni harus tetap mematuhi aturan yang aturan
yang berlaku, dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka setiap hari dengan
jumlah peserta didik 100% dan tetap memahami kondisi atau yang dirasakan murid
saat ini. Karena hal itu saya melakukan aksi ini yaitu pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran.
Hasil Aksi Nyata
1) Antara orangtua dan guru memiliki paradigma yang sama.
2) Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan kompetensi sosial emosional.
3) Kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan sesuai kebutuhan dan berpihak pada murid.
4) Terbentuk dan terjadinya kerjasama antara pihak sekolah, komite dan orangtua.
5) Paradigma yang sesuai adalah individu lawan masyarakat (individual vs community), karena menurut saya ketika saya mengambil keputusan terhadap salah satu murid, maka akan berimbas pada “kelompok” yang lebih besar (masyarakat). Dan paradigma jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term), karena dalam hal ini pihak sekolah tidak hanya memikirkan situasi kondisi murid saat ini saja (misalnya harus menaati peraturan yang berlaku), tetapi juga memikirkan situasi kondisi murid di masa yang akan datang yaitu adanya dampak psikis atau trauma pada murid.
6) Prinsip yang saya terapkan adalah berpikir berbasis peraturan (rule-base thinking) dan berpikir berbasis rasa peduli (care-base thinking).
Berpikir berbasis peraturan, karena prinsip ini berpusat pada tugas/kewajiban yang patut untuk dilakukan. Pihak sekolah akan bertindak sesuai aturan yang berlaku yaitu sesuai surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo perihal pelaksanaan PTM dengan ketentuan dilaksanakan setiap hari, dengan jumlah peserta didik 100% (seratus persen) dari kapasitas ruang kelas dan lama belajar paling banyak 6 (enam) jam pelajaran per hari. Sehingga pihak sekolah juga berharap agar murid bertindak mengikuti sesuai aturan itu. Selain itu pihak sekolah juga masih menunjukkan rasa peduli untuk murid (care-base thinking), bagaimana pun kondisi murid itu harus menjadi prioritas utama, terutama untuk kenyamanan murid dalam pembelajaran. Yaitu dengan tetap mendukung dan memikirkan kenyamanan, kepentingan dan dampak kedepannya bagi murid (empati).
7) 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan :
a) Nilai-nilai yang saling bertentangan. Dalam hal ini, saya harus memilih diantara dua pilihan itu benar secara moral tetapi bertentangan (benar vs benar), yakni harus tetap mematuhi aturan yang aturan yang berlaku, dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka setiap hari dengan jumlah peserta didik 100% dan tetap memahami kondisi atau yang dirasakan murid saat ini.
b) Yang terlibat dalam situasi dilema ini adalah murid, guru, orangtua dan Kepala Sekolah.
c) Fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini adalah mendapatkan keluhan/pengaduan dari orangtua murid dan si anak tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengikuti pembelajaran yang di kelas.
d) Pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut :
(1) Uji legal, tidak ada pelanggaran hukum (benar vs benar).
(2) Uji regulasi standar professional, pada situasi ini tidak melanggar kode etik profesionalismenya sebagai guru.
(3) Uji intuisi, nilai benar sesuai keyakinan.
(4) Uji publikasi, keputusan boleh dipublikasikan.
(5) Uji panutan atau idola adalah dari guru senior dan Kepala Sekolah. Karena yang akan diambil adalah berpikir rasa peduli dengan tidak mengindahkan peraturan. Karena mementingkan rasa kemanusiaan.
e) Pengujian paradigma benar melawan benar. Pengujian paradigma yang terjadi adalah individu lawan masyarakat (individual vs community) dan paradigma jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).
f) Melakukan prinsip resolusi, adalah berpikir berbasis peraturan (rule-base thinking) dan berpikir berbasis rasa peduli (care-base thinking).
g) Investigasi Opsi Trilemma, memetakan murid sesuai dengan kesiapan belajar (readiness), gaya belajar dan proses. Serta melakukan pendekatan secara personal untuk mengetahui dan mengenal murid lebih dekat lagi.
h) Buat keputusan :
- Membuat pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar dan gaya belajar murid, yaitu dengan pembelajaran berdiferensiasi kompetensi sosial emosional.
- Membuat kelompok-kelompok belajar bagi murid.
- Mengadakan pendampingan khusus bagi murid yang kurang mampu dalam memahami materi pembelajaran.
i) Lihat kembali keputusan dan refleksi. Keputusan yang akan diambil adalah memiliki kelebihan dalam memanusiakan hubungan.
B. PERASAAN (FEELINGS)
Saya merasa senang dan tertantang ketika mempelajari
modul 3.1 ini, karena dari permasalahan atau hal-hal yang umumnya terjadi dalam
kehidupan maupun pembelajaran di kelas/instansi ini dapat menjadikan kita
belajar untuk menjadi seorang pemimpin dalam mengambil sebuah keputusan, dengan
menggunakan 4 paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Dimana saat saya mengalami dilema, disatu sisi saya ingin menegakkan peraturan
yang ada, tetapi melihat dari sudut pandang lain yang bagaimana pun kondisi
murid itu harus menjadi prioritas utama, terutama untuk kenyamanan murid dalam
pembelajaran. Karena jika keputusan yang diambil dapat membahagiakan semua
pihak, maka dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Selain itu merasa bahagia,
karena dapat memberikan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan bertatap
muka secara langsung. Serta senang dapat menjalin komunikasi dan hubungan yang
baik dengan orangtua/walimurid kelas III. Yaitu ketika moment disaat
orangtua mengantarkan atau menjemput anak-anaknya ke sekolah. Mungkin hal itu
terkesan sepele, namun sangat berkesan bagi saya karena dari situ dapat
menjalin komunikasi dan menciptakan hubungan yang harmonis.
C. PEMBELAJARAN (FINDINGS)
Pembelajaran yang saya dapatkan dalam pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini adalah ketika mengenali dilema yang
saya hadapi (dilema etika atau bujukan moral), karena akan lebih membuat saya
percaya diri dalam mengambil sebuah keputusan yaitu dengan menggunakan 4
paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan. Prinsip pengambilan keputusan ini
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam pada diri seorang pendidik. Bila
keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi, maka kemungkinan akan ada
rasa sesal setelah keputusan dibuat.
Selain itu dengan terus
berupaya memetakan apa yang menjadi kebutuhan belajar murid saya, berdasarkan
minat, kesiapan belajar dan profil gaya belajarnya dengan memasukkan unsur –
unsur diferensiasi yaitu konten, proses, produk dan memasukkan teknik KSE yang
tepat, dapat menciptakan merdeka belajar, sesuai dengan minat bakatnya, namun
tetap fokus pada tujuan pembelajarannya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki
Hajar Dewantara, bahwa tugas guru adalah menuntun anak sesuai kodrat alam dan
zamannya masing-masing.
D. PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)
Setelah mempelajari lebih jauh rangkaian modul 3.1
tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, harapan kedepannya
saya dapat mengenali termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika sudah
mengetahui termasuk yang mana, baru menuju tahap berikutnya menggunakan 4
paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan, yang pastinya dilakukan secara berkolaborasi
dengan rekan sejawat maupun pihak yang terkait dalam situasi tersebut (misalnya
dengan orangtua, komite atau masyarakat).
Keputusan
yang saya ambil dalam aksi nyata ini, akan terus dilaksanakan dalam
pembelajaran di kelas saya atau kelas rekan sejawat lainnya. Karena
pembelajaran berdiferensiasi dengan memetakan kebutuhan belajar murid perlu
diterapkan di sekolah, agar dapat mengembangkan bakat dan potensi murid sesuai
kemampuannya. Semoga keputusan yang saya ambil ini, akan semakin menguatkan
jati diri sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid, sesuai dengan
Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Salam dan Bahagia...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar