Sabtu, 30 April 2022

AKSI NYATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 MODUL 3.1.a.10

Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

di SD Negeri Wonokarang - Balongbendo - Sidoarjo


A. PERISTIWA (FACTS)

    Latar Belakang Situasi 

   Berdasarkan surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo nomor 421/1141/438.5.1/2022 tertanggal 29 Maret 2022, perihal Pemberitahuan Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas sesuai Inmendagri Nomor 18 Tahun 2022 pada satuan pendidikan di Kabupaten Sidoarjo. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka diatur dengan ketentuan dilaksanakan setiap hari, dengan jumlah peserta didik 100% (seratus persen) dari kapasitas ruang kelas dan lama belajar paling banyak 6 (enam) jam pelajaran per hari. Dengan kondisi ini dapat dilihat kemampuan masing-masing murid, baik secara akademik ataupun sosial emosional menunjukkan perbedaan. Terlebih setelah kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring (online) selama kurang lebih 3 (tiga) semester lamanya, menyebabkan kehadiran murid belum maksimal semuanya, murid masih terlihat menunjukkan santai dalam belajar belum sepenuhnya hilang dan beralasan tidak masuk sekolah dulu. Sehingga saya sebagai guru dan wali kelas III, harus dapat memetakan kemampuan masing-masing murid tersebut, agar mereka mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
            Seiring berjalannya kegiatan PTM terbatas ini, saya mendapatkan keluhan dari orangtua/walimurid. Karena anaknya tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengikuti pembelajaran yang di kelas dan lebih senang daring (online), dengan alasan lebih santai serta bisa dibantu orangtua dalam menyelesaikan tugasnya. Hal ini semakin meyakinkan saya untuk melakukan dan menerapkan pembelajaran yang berdiferensiasi dengan kompetensi sosial emosional, seperti apa yang sudah saya dapatkan dalam paket modul sebelumnya.

Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo 


    Alasan Melakukan Aksi Nyata

        Dari hal yang saya paparkan dalam latar belakang, situasi ini merupakan dilema bagi saya selaku guru dan wali kelas III. Karena adanya anak yang tidak mau untuk berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengerjakan tugas di kelas tanpa bantuan orangtuanya. Oleh karena itu, saya berdiskusi dengan Kepala Sekolah, rekan sejawat yang juga CGP dan satu rekan guru mapel untuk mendapatkan solusi dari dilema yang saya hadapi di kelas ini. Rekan guru mapel ini (Guru PAI) merupakan sebagai pembanding atau memberikan tambahan informasi juga bagi saya, apakah si anak ini ketika mata pelajaran lainnya juga melakukan demikian (tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengikuti pembelajaran).
        Dalam hal ini, saya harus memilih diantara dua pilihan, dimana dua pilihan itu benar secara moral tetapi bertentangan (benar vs benar), yakni harus tetap mematuhi aturan yang aturan yang berlaku, dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka setiap hari dengan jumlah peserta didik 100% dan tetap memahami kondisi atau yang dirasakan murid saat ini. Karena hal itu saya melakukan aksi ini yaitu pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.




    Hasil Aksi Nyata

1)     Antara orangtua dan guru memiliki paradigma yang sama.

2)    Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan kompetensi sosial emosional.

3)    Kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan sesuai kebutuhan dan berpihak pada murid.

4)    Terbentuk dan terjadinya kerjasama antara pihak sekolah, komite dan orangtua.

5)   Paradigma yang sesuai adalah individu lawan masyarakat (individual vs community), karena menurut saya ketika saya mengambil keputusan terhadap salah satu murid, maka akan berimbas pada “kelompok” yang lebih besar (masyarakat). Dan paradigma jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term), karena dalam hal ini pihak sekolah tidak hanya memikirkan situasi kondisi murid saat ini saja (misalnya harus menaati peraturan yang berlaku), tetapi juga memikirkan situasi kondisi murid di masa yang akan datang yaitu adanya dampak psikis atau trauma pada murid.

6)   Prinsip yang saya terapkan adalah berpikir berbasis peraturan (rule-base thinking) dan berpikir berbasis rasa peduli (care-base thinking).

Berpikir berbasis peraturan, karena prinsip ini berpusat pada tugas/kewajiban yang patut untuk dilakukan. Pihak sekolah akan bertindak sesuai aturan yang berlaku yaitu sesuai surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo perihal pelaksanaan PTM dengan ketentuan dilaksanakan setiap hari, dengan jumlah peserta didik 100% (seratus persen) dari kapasitas ruang kelas dan lama belajar paling banyak 6 (enam) jam pelajaran per hari. Sehingga pihak sekolah juga berharap agar murid bertindak mengikuti sesuai aturan itu. Selain itu pihak sekolah juga masih menunjukkan rasa peduli untuk murid (care-base thinking), bagaimana pun kondisi murid itu harus menjadi prioritas utama, terutama untuk kenyamanan murid dalam pembelajaran. Yaitu dengan tetap mendukung dan memikirkan kenyamanan, kepentingan dan dampak kedepannya bagi murid (empati).

7)      9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan :

a)  Nilai-nilai yang saling bertentanganDalam hal ini, saya harus memilih diantara dua pilihan itu benar secara moral tetapi bertentangan (benar vs benar), yakni harus tetap mematuhi aturan yang aturan yang berlaku, dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka setiap hari dengan jumlah peserta didik 100% dan tetap memahami kondisi atau yang dirasakan murid saat ini.

b) Yang terlibat dalam situasi dilema ini adalah murid, guru, orangtua dan Kepala Sekolah.

c) Fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini adalah mendapatkan keluhan/pengaduan dari orangtua murid dan si anak tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengikuti pembelajaran yang di kelas.

d)  Pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut :

(1)    Uji legal, tidak ada pelanggaran hukum (benar vs benar).

(2) Uji regulasi standar professional, pada situasi ini tidak melanggar kode etik profesionalismenya sebagai guru.

(3)    Uji intuisi, nilai benar sesuai keyakinan.

(4)    Uji publikasi, keputusan boleh dipublikasikan.

(5)    Uji panutan atau idola adalah dari guru senior dan Kepala Sekolah. Karena yang akan diambil adalah berpikir rasa peduli dengan tidak mengindahkan peraturan. Karena mementingkan rasa kemanusiaan.

e) Pengujian paradigma benar melawan benarPengujian paradigma yang terjadi adalah individu lawan masyarakat (individual vs community)  dan paradigma jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).

f) Melakukan prinsip resolusiadalah berpikir berbasis peraturan (rule-base thinking) dan berpikir berbasis rasa peduli (care-base thinking).

g) Investigasi Opsi Trilemmamemetakan murid sesuai dengan kesiapan belajar (readiness), gaya belajar dan proses. Serta melakukan pendekatan secara personal untuk mengetahui dan mengenal murid lebih dekat lagi.

h)  Buat keputusan :

-    Membuat pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar dan gaya belajar murid, yaitu dengan pembelajaran berdiferensiasi kompetensi sosial emosional.

-        Membuat kelompok-kelompok belajar bagi murid.

-      Mengadakan pendampingan khusus bagi murid yang kurang mampu dalam memahami materi pembelajaran.

i) Lihat kembali keputusan dan refleksiKeputusan yang akan diambil adalah memiliki kelebihan dalam memanusiakan hubungan.








B. PERASAAN (FEELINGS)

        Saya merasa senang dan tertantang ketika mempelajari modul 3.1 ini, karena dari permasalahan atau hal-hal yang umumnya terjadi dalam kehidupan maupun pembelajaran di kelas/instansi ini dapat menjadikan kita belajar untuk menjadi seorang pemimpin dalam mengambil sebuah keputusan, dengan menggunakan 4 paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dimana saat saya mengalami dilema, disatu sisi saya ingin menegakkan peraturan yang ada, tetapi melihat dari sudut pandang lain yang bagaimana pun kondisi murid itu harus menjadi prioritas utama, terutama untuk kenyamanan murid dalam pembelajaran. Karena jika keputusan yang diambil dapat membahagiakan semua pihak, maka dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.
        Selain itu merasa bahagia, karena dapat memberikan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan bertatap muka secara langsung. Serta senang dapat menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan orangtua/walimurid kelas III. Yaitu ketika moment disaat orangtua mengantarkan atau menjemput anak-anaknya ke sekolah. Mungkin hal itu terkesan sepele, namun sangat berkesan bagi saya karena dari situ dapat menjalin komunikasi dan menciptakan hubungan yang harmonis.



C. PEMBELAJARAN (FINDINGS)

        Pembelajaran yang saya dapatkan dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini adalah ketika mengenali dilema yang saya hadapi (dilema etika atau bujukan moral), karena akan lebih membuat saya percaya diri dalam mengambil sebuah keputusan yaitu dengan menggunakan 4 paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Prinsip pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam pada diri seorang pendidik. Bila keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi, maka kemungkinan akan ada rasa sesal setelah keputusan dibuat.
    Selain itu dengan terus berupaya memetakan apa yang menjadi kebutuhan belajar murid saya, berdasarkan minat, kesiapan belajar dan profil gaya belajarnya dengan memasukkan unsur – unsur diferensiasi yaitu konten, proses, produk dan memasukkan teknik KSE yang tepat, dapat menciptakan merdeka belajar, sesuai dengan minat bakatnya, namun tetap fokus pada tujuan pembelajarannya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, bahwa tugas guru adalah menuntun anak sesuai kodrat alam dan zamannya masing-masing.

D. PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

     Setelah mempelajari lebih jauh rangkaian modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, harapan kedepannya saya dapat mengenali termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika sudah mengetahui termasuk yang mana, baru menuju tahap berikutnya menggunakan 4 paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, yang pastinya dilakukan secara berkolaborasi dengan rekan sejawat maupun pihak yang terkait dalam situasi tersebut (misalnya dengan orangtua, komite atau masyarakat).
   Keputusan yang saya ambil dalam aksi nyata ini, akan terus dilaksanakan dalam pembelajaran di kelas saya atau kelas rekan sejawat lainnya. Karena pembelajaran berdiferensiasi dengan memetakan kebutuhan belajar murid perlu diterapkan di sekolah, agar dapat mengembangkan bakat dan potensi murid sesuai kemampuannya. Semoga keputusan yang saya ambil ini, akan semakin menguatkan jati diri sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid, sesuai dengan Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara.




Terimakasih...
Salam dan Bahagia...











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Best Practices - Pembelajaran PBL (PPL Aksi 1 dan Aksi 2 PPG DALJAB Kategori 1 Tahun 2022)

  LK 3.1 Menyusun Best Practices Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)   Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi...