Sabtu, 30 April 2022

AKSI NYATA PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 MODUL 3.1.a.10

Aksi Nyata Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

di SD Negeri Wonokarang - Balongbendo - Sidoarjo


A. PERISTIWA (FACTS)

    Latar Belakang Situasi 

   Berdasarkan surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo nomor 421/1141/438.5.1/2022 tertanggal 29 Maret 2022, perihal Pemberitahuan Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas sesuai Inmendagri Nomor 18 Tahun 2022 pada satuan pendidikan di Kabupaten Sidoarjo. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka diatur dengan ketentuan dilaksanakan setiap hari, dengan jumlah peserta didik 100% (seratus persen) dari kapasitas ruang kelas dan lama belajar paling banyak 6 (enam) jam pelajaran per hari. Dengan kondisi ini dapat dilihat kemampuan masing-masing murid, baik secara akademik ataupun sosial emosional menunjukkan perbedaan. Terlebih setelah kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring (online) selama kurang lebih 3 (tiga) semester lamanya, menyebabkan kehadiran murid belum maksimal semuanya, murid masih terlihat menunjukkan santai dalam belajar belum sepenuhnya hilang dan beralasan tidak masuk sekolah dulu. Sehingga saya sebagai guru dan wali kelas III, harus dapat memetakan kemampuan masing-masing murid tersebut, agar mereka mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
            Seiring berjalannya kegiatan PTM terbatas ini, saya mendapatkan keluhan dari orangtua/walimurid. Karena anaknya tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengikuti pembelajaran yang di kelas dan lebih senang daring (online), dengan alasan lebih santai serta bisa dibantu orangtua dalam menyelesaikan tugasnya. Hal ini semakin meyakinkan saya untuk melakukan dan menerapkan pembelajaran yang berdiferensiasi dengan kompetensi sosial emosional, seperti apa yang sudah saya dapatkan dalam paket modul sebelumnya.

Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo 


    Alasan Melakukan Aksi Nyata

        Dari hal yang saya paparkan dalam latar belakang, situasi ini merupakan dilema bagi saya selaku guru dan wali kelas III. Karena adanya anak yang tidak mau untuk berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengerjakan tugas di kelas tanpa bantuan orangtuanya. Oleh karena itu, saya berdiskusi dengan Kepala Sekolah, rekan sejawat yang juga CGP dan satu rekan guru mapel untuk mendapatkan solusi dari dilema yang saya hadapi di kelas ini. Rekan guru mapel ini (Guru PAI) merupakan sebagai pembanding atau memberikan tambahan informasi juga bagi saya, apakah si anak ini ketika mata pelajaran lainnya juga melakukan demikian (tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengikuti pembelajaran).
        Dalam hal ini, saya harus memilih diantara dua pilihan, dimana dua pilihan itu benar secara moral tetapi bertentangan (benar vs benar), yakni harus tetap mematuhi aturan yang aturan yang berlaku, dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka setiap hari dengan jumlah peserta didik 100% dan tetap memahami kondisi atau yang dirasakan murid saat ini. Karena hal itu saya melakukan aksi ini yaitu pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.




    Hasil Aksi Nyata

1)     Antara orangtua dan guru memiliki paradigma yang sama.

2)    Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan kompetensi sosial emosional.

3)    Kegiatan pembelajaran lebih menyenangkan sesuai kebutuhan dan berpihak pada murid.

4)    Terbentuk dan terjadinya kerjasama antara pihak sekolah, komite dan orangtua.

5)   Paradigma yang sesuai adalah individu lawan masyarakat (individual vs community), karena menurut saya ketika saya mengambil keputusan terhadap salah satu murid, maka akan berimbas pada “kelompok” yang lebih besar (masyarakat). Dan paradigma jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term), karena dalam hal ini pihak sekolah tidak hanya memikirkan situasi kondisi murid saat ini saja (misalnya harus menaati peraturan yang berlaku), tetapi juga memikirkan situasi kondisi murid di masa yang akan datang yaitu adanya dampak psikis atau trauma pada murid.

6)   Prinsip yang saya terapkan adalah berpikir berbasis peraturan (rule-base thinking) dan berpikir berbasis rasa peduli (care-base thinking).

Berpikir berbasis peraturan, karena prinsip ini berpusat pada tugas/kewajiban yang patut untuk dilakukan. Pihak sekolah akan bertindak sesuai aturan yang berlaku yaitu sesuai surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo perihal pelaksanaan PTM dengan ketentuan dilaksanakan setiap hari, dengan jumlah peserta didik 100% (seratus persen) dari kapasitas ruang kelas dan lama belajar paling banyak 6 (enam) jam pelajaran per hari. Sehingga pihak sekolah juga berharap agar murid bertindak mengikuti sesuai aturan itu. Selain itu pihak sekolah juga masih menunjukkan rasa peduli untuk murid (care-base thinking), bagaimana pun kondisi murid itu harus menjadi prioritas utama, terutama untuk kenyamanan murid dalam pembelajaran. Yaitu dengan tetap mendukung dan memikirkan kenyamanan, kepentingan dan dampak kedepannya bagi murid (empati).

7)      9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan :

a)  Nilai-nilai yang saling bertentanganDalam hal ini, saya harus memilih diantara dua pilihan itu benar secara moral tetapi bertentangan (benar vs benar), yakni harus tetap mematuhi aturan yang aturan yang berlaku, dengan melaksanakan pembelajaran tatap muka setiap hari dengan jumlah peserta didik 100% dan tetap memahami kondisi atau yang dirasakan murid saat ini.

b) Yang terlibat dalam situasi dilema ini adalah murid, guru, orangtua dan Kepala Sekolah.

c) Fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini adalah mendapatkan keluhan/pengaduan dari orangtua murid dan si anak tidak mau berangkat sekolah, dengan alasan takut tidak bisa mengikuti pembelajaran yang di kelas.

d)  Pengujian benar atau salah terhadap situasi tersebut :

(1)    Uji legal, tidak ada pelanggaran hukum (benar vs benar).

(2) Uji regulasi standar professional, pada situasi ini tidak melanggar kode etik profesionalismenya sebagai guru.

(3)    Uji intuisi, nilai benar sesuai keyakinan.

(4)    Uji publikasi, keputusan boleh dipublikasikan.

(5)    Uji panutan atau idola adalah dari guru senior dan Kepala Sekolah. Karena yang akan diambil adalah berpikir rasa peduli dengan tidak mengindahkan peraturan. Karena mementingkan rasa kemanusiaan.

e) Pengujian paradigma benar melawan benarPengujian paradigma yang terjadi adalah individu lawan masyarakat (individual vs community)  dan paradigma jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term).

f) Melakukan prinsip resolusiadalah berpikir berbasis peraturan (rule-base thinking) dan berpikir berbasis rasa peduli (care-base thinking).

g) Investigasi Opsi Trilemmamemetakan murid sesuai dengan kesiapan belajar (readiness), gaya belajar dan proses. Serta melakukan pendekatan secara personal untuk mengetahui dan mengenal murid lebih dekat lagi.

h)  Buat keputusan :

-    Membuat pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar dan gaya belajar murid, yaitu dengan pembelajaran berdiferensiasi kompetensi sosial emosional.

-        Membuat kelompok-kelompok belajar bagi murid.

-      Mengadakan pendampingan khusus bagi murid yang kurang mampu dalam memahami materi pembelajaran.

i) Lihat kembali keputusan dan refleksiKeputusan yang akan diambil adalah memiliki kelebihan dalam memanusiakan hubungan.








B. PERASAAN (FEELINGS)

        Saya merasa senang dan tertantang ketika mempelajari modul 3.1 ini, karena dari permasalahan atau hal-hal yang umumnya terjadi dalam kehidupan maupun pembelajaran di kelas/instansi ini dapat menjadikan kita belajar untuk menjadi seorang pemimpin dalam mengambil sebuah keputusan, dengan menggunakan 4 paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dimana saat saya mengalami dilema, disatu sisi saya ingin menegakkan peraturan yang ada, tetapi melihat dari sudut pandang lain yang bagaimana pun kondisi murid itu harus menjadi prioritas utama, terutama untuk kenyamanan murid dalam pembelajaran. Karena jika keputusan yang diambil dapat membahagiakan semua pihak, maka dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.
        Selain itu merasa bahagia, karena dapat memberikan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan bertatap muka secara langsung. Serta senang dapat menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan orangtua/walimurid kelas III. Yaitu ketika moment disaat orangtua mengantarkan atau menjemput anak-anaknya ke sekolah. Mungkin hal itu terkesan sepele, namun sangat berkesan bagi saya karena dari situ dapat menjalin komunikasi dan menciptakan hubungan yang harmonis.



C. PEMBELAJARAN (FINDINGS)

        Pembelajaran yang saya dapatkan dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini adalah ketika mengenali dilema yang saya hadapi (dilema etika atau bujukan moral), karena akan lebih membuat saya percaya diri dalam mengambil sebuah keputusan yaitu dengan menggunakan 4 paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Prinsip pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam pada diri seorang pendidik. Bila keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi, maka kemungkinan akan ada rasa sesal setelah keputusan dibuat.
    Selain itu dengan terus berupaya memetakan apa yang menjadi kebutuhan belajar murid saya, berdasarkan minat, kesiapan belajar dan profil gaya belajarnya dengan memasukkan unsur – unsur diferensiasi yaitu konten, proses, produk dan memasukkan teknik KSE yang tepat, dapat menciptakan merdeka belajar, sesuai dengan minat bakatnya, namun tetap fokus pada tujuan pembelajarannya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, bahwa tugas guru adalah menuntun anak sesuai kodrat alam dan zamannya masing-masing.

D. PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

     Setelah mempelajari lebih jauh rangkaian modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, harapan kedepannya saya dapat mengenali termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika sudah mengetahui termasuk yang mana, baru menuju tahap berikutnya menggunakan 4 paradigma – 3 prinsip – dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, yang pastinya dilakukan secara berkolaborasi dengan rekan sejawat maupun pihak yang terkait dalam situasi tersebut (misalnya dengan orangtua, komite atau masyarakat).
   Keputusan yang saya ambil dalam aksi nyata ini, akan terus dilaksanakan dalam pembelajaran di kelas saya atau kelas rekan sejawat lainnya. Karena pembelajaran berdiferensiasi dengan memetakan kebutuhan belajar murid perlu diterapkan di sekolah, agar dapat mengembangkan bakat dan potensi murid sesuai kemampuannya. Semoga keputusan yang saya ambil ini, akan semakin menguatkan jati diri sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid, sesuai dengan Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara.




Terimakasih...
Salam dan Bahagia...











Sabtu, 23 April 2022

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran



“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)
Bob Talbert

 

Kaitannya kutipan tersebut dengan proses pembelajaran yang sedang saya pelajari saat ini bahwa pengetahuan/knowledge saja tidak cukup, akan tetapi murid juga harus mampu menumbuhkan dan dibekali dengan kecerdasan spiritual, seperti nilai-nilai kebajikan moral, kasih sayang, serta pendidikan karakter. Kemudian ditambah dengan diberikan didikan kecerdasan mengolah sosial emosionalnya. Tujuannya yaitu menjadikan “manusia merdeka”, yang dimaknai di mana seorang guru harus kembali pada titik awal untuk memahami filosofi Ki Hajar Dewantara. Diantaranya konsep pendidikan dengan sistem among, konsep budi pekerti, pendidikan sesuai kodrat alam dan kodrat zaman, Asas Trikon (Kontinyu, Konvergen dan Konsentris), serta konsep Patrap Triloka (Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani). Salah satu cara sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid dalam pengambilan keputusan, yaitu dapat dilakukan dalam pengimplementasian konsep Merdeka Belajar dalam konteks pembelajaran di sekolah. salah satunya yakni penerapan Patrap Triloka. 

 

Untuk memahami Koneksi Antarmateri pada modul 3.1.a.9 terkait Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, berikut terdapat 10 pertanyaan pemantik yang akan saya coba membahasnya satu persatu, diantaranya :

1.   Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Pengaruh Pratap Triloka terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, yaitu sebagai seorang guru harus mampu memposisikan dirinya sebagai teladan bagi yang dipimpinnya sebagai bentuk dari Ing Ngarsa Sung Tuladha, yang dalam konteks proses pembelajaran seorang guru berperan sebagai mentor, yang mentransfer pengetahuan kepada murid. Selain memberi teladan, seorang pemimpin pembelajaran juga berada di tengah untuk membangkitkan/membangun kemauan, sebagai bentuk dari Ing Madya Mangun Karsa. Pada konteks ini guru berperan sebagai coach yaitu mitra murid dalam membantu mengembangkan potensinya, untuk menemukan solusi mandiri dari permasalahan yang dihadapi dengan menerapkan komunikasi asertif kepada murid dan menjadi pendengar yang baik. Dan sebagai bentuk Tut Wuri Handayani, yaitu guru harus mampu memberi dorongan dan membangkitkan motivasi intrinsik pada murid, demi terciptanya lingkungan yang nyaman dengan pengambilan keputusan yang berdampak positif. Arah dari ketiga prinsip Pratap Triloka tersebut adalah mendorong murid untuk mampu mengenal dan mengembangkan potensinya yang dimilikinya sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sebagai tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara. Yaitu agar murid memiliki kompetensi global serta perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

 

2.   Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita sangat berpengaruh terhadap prinsip pengambilan keputusan. Karena pada hakikatnya nilai-nilai yang sudah melekat pada diri, akan berpengaruh terhadap segala hal, termasuk dalam pengambilan keputusan. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang guru tentunya nilai kebaikan, mandiri, reflektif, kolaboratif, tanggungjawab, disiplin, kejujuran, gotong royong, toleransi, berpihak pada murid dan nilai kebajikan lainnya. Nilai atau prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Seseorang yang cenderung utilitirianisme atau berpandangan kelayakan/nilai guna berdasarkan tingkat maksimal yang dicapai dari penggunanya akan mengambil keputusan Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking). Namun seseorang birokrat yang cenderung ideologis atau terbiasa dengan regulasi aturan-aturan yang telah ditetapkan, maka akan mengambil keputusan Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking). Sedangkan seseorang yang memiliki empati tinggi, akan lebih banyak mengambil keputusan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

 

3.    Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Keterkaitan modul coaching dan modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah ketika seseorang dihadapkan dengan dilema. Efektivitas pengambilan keputusan dengan teknik coaching ini, akan menjawab segala pertanyaan dalam diri untuk menggali potensi yang ada dan dapat menyelesaikan permasalahan dengan keputusan yang bertanggungjawab. Coaching dengan konsep TIRTA (Tujuan utama, Identifikasi, Rencana aksi dan TAnggungjawab) ini, tepat apabila dikombinasikan dengan 9 Langkah Pengambilan Keputusan. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh Pengajar Praktik atau fasilisator ini, telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Bahkan menurut saya, dalam proses pengambilan sebuah keputusan terdapat pada sesi coaching. Karena didalamnya terdapat komunikasi asertif dengan membangun budaya positif, agar keputusan yang diambil juga berdampak positif untuk sekitar.

 

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Pengaruh kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, yaitu seyogyanya seorang guru sudah memahami kondisi sosial emosional murid di kelasnya. Dengan memahami keragaman minat, potensi dan gaya belajar murid guru dapat menstimulus murid secara maksimal. Dan dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, sebagai seorang guru diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Sehingga diharapkan dalam proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfulness), terutama menyadari dengan berbagai pilihan yang diambil, konsekuensi yang akan terjadi, dan meminimalisir kesalahan dalam pengambilan keputusan. Yang terpenting tujuan utama pengambilan keputusan adalah keberpihakan pada murid.

 

5.      Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Ketika nilai-nilai kebajikan, moral dan etika sudah mengakar pada diri seorang guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran, maka tentu akan berpengaruh terhadap keputusan yang diambilnya. Terlebih ketika berkaitan dengan dilema etika, dimana situasi harus memilih antara dua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan (benar vs benar). Oleh karenanya perlu seorang pendidik harus mampu melihat permasalahan yang dihadapi apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika ataukah bujukan moral. Sehingga dapat dianalisis permasalahannya dan dilakukan pengambilan keputusan dengan tepat, bijak dan bertanggungjawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan yang terjadi.

 

6.        Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran kita sering dihadapkan pada situasi dimana diharuskan mengambil suatu keputusan. Harapannya ketika sebuah keputusan itu diambil, maka akan tercipta lingkungan yang positif. Untuk itu pengambilan sebuah keputusan harus tetap dibangun dengan hubungan yang positif juga, serta dikomunikasikan secara asertif untuk meminimalisir ketidakpuasan pihak-pihak terkait akibat keputusan yang diambil. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan yang tepat dan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman, yang harus dilakukan pertama kali adalah mengenali terlebih dahulu kasus yang terjadi (termasuk dilema etika atau bujukan moral). Ketika sudah mengenali jenis kasusnya, maka pengambilan keputusan yang tepat terkait masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 (sembilan) langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan jika pengambilan keputusan dilakukan melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 (sembilan) langkah tersebut, maka keputusan itu diyakini tepat dan bijak, serta dapat mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terkait. Sehingga akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

 

7.     Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Pengalaman, usia yang belum terlalu senior dan terkadang mudah bimbang/ragu, itu yang menjadi kesulitan saya dalam mengambil keputusan. Jika itu dikelas, kesulitan saya adalah keberanian untuk mengeksekusi sesuatu hal. Namun jika itu dalam komunitas praktisi, saya harus mampu menempatkan diri dengan rekan guru lainnya (unggah-ungguh). Selain itu kesulitan yang dialami di lingkungan saya dalam mengambil keputusan adalah di mana dalam mengambil keputusan tidak melibatkan guru atau warga sekolah lainnya (komunikasi yang masih sedikit rendah), terjadi perbedaan pandangan atau paradigma di antara pihak-pihak terkait dalam kasus yang mempersulit tercapainya kesepakatan, serta timbulnya rasa kasihan yang lebih dominan dalam pengambilan keputusan.

 

8.   Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Sebagai seorang guru, saya merasa terbantu dengan penjelasan materi dari modul 3.1 terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Karena sebelumnya dalam menyelesaikan permasalahan, saya merasa belum sepenuhnya tepat dalam mengambil keputusan. Namun setelah mempelajari modul 3.1 ini, maka ketika mengambil keputusan harus memperhatikan beberapa hal penting terkait 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 (sembilan) langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Sehingga keputusan yang diambil akan berdampak baik kepada murid, karena dasar tujuan pembelajarannya adalah pembelajaran yang berpihak pada murid, mampu menuntun dalam mempersiapkan diri untuk hidup dalam masyarakat, agar dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid tersebut. Sebagai pemimpin pemberlajaran, kita harus berani dalam mengambil keputusan dengan membuat perubahan cara belajar yang awalnya berpusat pada guru, kemudian beralih berpusat pada murid. Karena pengambilan keputusan yang tepat akan mempengaruhi pengajaran seorang guru untuk mewujudkan Pendidikan yang memerdekakan murid.

 

9.  Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan atau keberhasilan masa depan muridnya. Karena untuk mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita harus benar-benar memperhatikan kebutuhan belajar dan didasarkan keberpihakan pada murid. Jika keputusan yang diambil sudah mempertimbangkan kebutuhan murid, maka murid akan dapat menggali potensi yang ada dalam dirinya. Sehingga kita dapat menuntun murid untuk menggembangkan potensi yang dimilikinya, hingga berpengaruh terhadap keberhasilan dan mampu menciptakan well being murid di masa depannya nanti yang lebih baik.

 

10.    Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya.


    Materi pada modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran memiliki koneksi dengan materi pada modul sebelumnya yang merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan untuk memerdekakan murid dalam belajar.
    Yaitu melalui Filosofi Pratap Triloka pada Pemikiran Ki Hajar Dewantara, bahwa tujuan pendidikan menuntun, mendorong segala proses dan kodrat potensi murid untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Agar murid memiliki kompetensi global serta perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Nilai dan peran guru penggerak yang berpihak pada murid. Memiliki visi guru penggerak yaitu dengan memberikan pembelajaran yang merdeka dengan penanaman budaya positif. Selanjutnya dengan pembelajaran berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan belajar individu secara keseluruhan tanpa membedakan satu sama lain. Kemudian pembelajaran sosial emosional juga sangat berpengaruh pada setiap pengambilan keputusan, karena menumbuhkan kesadaran diri dalam mengenali dan mengelola emosi. Dan coaching adalah alat bantu untuk mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Keterampilan coaching dapat membantu murid dalam mencari solusi atas permasalahannya sendiri. Coaching tidak sebatas pada murid, namun dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas praktisi terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran. 




 

Selasa, 19 April 2022

Jurnal Monolog 3.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Seorang guru penggerak merupakan pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta dapat menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sedang saya jalani saat ini, memang menuntut kerja keras dan motivasi yang kuat untuk terus belajar. Dalam mempelajari modul tentang Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran, saya menyadari benar bahwa banyak hal dalam hidup yang harus dipikirkan dengan bijaksana terutama berkaitan dengan pengambilan suatu keputusan

Teringat ketika memutuskan untuk mengikuti rangkaian tes Calon Guru Penggerak di tahun lalu, dengan mempertimbangkan lamanya waktu pendidikan 9 bulan, sehingga saya berdiskusi dengan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah mendukung penuh kegiatan PGP ini dan sekarang saya menyadari keputusan yang saya ambil tahun lalu untuk mengikuti pelatihan CGP ini bukanlah suatu kesalahan dan kekhawatiran. Begitu banyak manfaat yang saya dapat dari pendidikan Calon Guru Penggerak ini, salah satunya pada modul Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Karena sebagai seorang guru harus memiliki jiwa kepemimpinan, terutama didalam kelas, yang terbiasa menghadapi murid heterogen dengan beragam karakter. Selain itu sebagai seorang pemimpim pembelajaran dalam mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan, yang memberikan solusi terbaik untuk kemajuan perorangan atau sekelompok orang harus mampu memahami dan menganalisa aspek-aspek apa saja yang perlu diperhatikan sebelum dan sesudah pengambilan suatu keputusan dibuat. Harus mengkaji prinsip-prinsip atau nilai mana yang cenderung digunakan, menganalisis keputusan dan proses keputusan itu diambil. Jika hal ini dapat dilakukan dengan sebaik mungkin, maka harapan menjadi seorang pemimpin pembelajaran yang lebih baik, bijaksana dan tanggungjawab akan dapat terwujud.

Dalam modul 3.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual – Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, ini terdapat beberapa panduan pertanyaan yaitu :

A.      Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

Mentrasnfer dan menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan dari program guru penggerak ini, secara umum sudah saya terapkan mulai dari modul 1 yaitu pada Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam aksi nyata yang dapat di lihat pada channel youtube milik saya https://youtu.be/19CfZ_CwLgc. Namun yang paling terasa ialah perubahan mindset saya tentang cara memberikan pembelajaran yang merdeka dan berpihak pada murid, agar pembelajaran ini menyenangkan tanpa paksaan. Secara khusus pada materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya akan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan beserta langkah-langkah pengambilan keputusan, sebagai umpan balik dari ilmu yang sudah saya pelajari pada kegiatan ini. Saya berencana untuk membagikan ilmu yang diperoleh kepada teman sejawat di sekolah dengan cara melakukan diskusi-diskusi ringan terlebih dahulu, berkoordinasi. sharing, konsultasi dengan kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan di sekolah, dan menggali permasalahan yang dihadapi bersama rekan guru pada komunitas praktisi saya.

 

B.     Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

Hal pertama yang saya lakukan adalah menganalisis situasi yang dihadapi ini, apakah termasuk dilema etika (benar vs benar) atau bujukan moral (benar vs salah). Karena proses pengambilan keputusan membutuhkan ketenangan, keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang diambil. Jika kasus tersebut adalah dilema etika, saya akan menerapkan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Namun jika situasi tersebut adalah bujukan moral, maka keputusan yang saya ambil adalah yang bernilai benar. Adapun 9 (sembilan) Langkah Pengambilan Keputusan, diantaranya :

1.    Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2.    Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.    Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.    Pengujian benar atau salah, yaitu :

a)        Uji Legal

b)        Uji Regulasi/Standar Profesional

c)         Uji Intuisi

d)       Uji Publikasi

e)        Uji Panutan/Idola

5.    Pengujian paradigma benar lawan benar.

6.    Melakukan prinsip resolusi.

7.    Investigasi opsi trilemma

8.    Buat keputusan

9.    Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Dengan langkah-langkah tersebut, akan saya lakukan dengan berdiskusi bersama Kepala Sekolah dan rekan sejawat, memetakan permasalahan dan mengimplementasikan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

 

C.    Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

Saya akan mulai menerapkan langkah-langkah tersebut, mulai hari ini Selasa 19 April 2022 yang dimulai dari diri saya. Kemudian untuk menganalisis dan mengenali permasalahan – permasalahan atau dilema yang terjadi, saya akan mulai manerapkan 9 (sembilan) langkah pengambilan keputusan, baik itu situasi pribadi, di kelas ataupun di sekolah

 

D.    Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.

Saya akan meminta bimbingan dari Bapak Abdul Majid Hariadi, M.Pd selaku Pengajar Praktik, Bapak Samto Darmos, S.Pd selaku fasilitator dan Kepala Sekolah sebagai atasan langsung atau pihak lain terkait dengan situasi yng dihadapi. Selain itu rekan guru yang lebih senior dan rekan sesama CGP yang juga melakukan kegiatan ini. Dengan adanya komunikasi yang baik, maka kami dapat berkolaborasi dan bertukar pikiran. Ketika menemui kendala, saya dapat menemukan solusinya melalui kegiatan diskusi dan saling berbagi pengalaman.


Best Practices - Pembelajaran PBL (PPL Aksi 1 dan Aksi 2 PPG DALJAB Kategori 1 Tahun 2022)

  LK 3.1 Menyusun Best Practices Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)   Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi...