Rabu, 19 Januari 2022

1.4.a.10. Aksi Nyata - Budaya Positif

 

MEMBUAT KEYAKINAN KELAS

DI KELAS III SD NEGERI WONOKARANG

SERTA BERBAGI PRAKTIK BAIK MELALUI DISEMINASI PADA REKAN SEJAWAT


Oleh :

NINDY PUSVITANINGTYAS, S.Pd.

SD NEGERI WONOKARANG

CGP ANGKATAN 4 KAB. SIDOARJO JAWA TIMUR

Link Youtube 1.4.a.10 Aksi Nyata https://youtu.be/FprSK2byxnY


 

A.      Latar Belakang

Sekolah adalah institusi pembentukan karakter. Tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah “menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya”. Untuk mewujudkan hal tersebut, penting adanya penerapan budaya positif sekolah dalam pembiasaan sehari-hari, untuk penanaman budi pekerti murid sebagai pembentukan karakter. Budaya positif sekolah adalah keyakinan, nilai-nilai dan asumsi dasar yang dianut oleh warga sekolah. Budaya positif di sekolah tidaklah berdiri sendiri, melainkan satu sama lain saling terintegrasi dan saling mempengaruhi. Membangun budaya positif bukanlah hal yang mudah, karena diperlukan komunikasi dan kolaborasi yang positif antara kepala sekolah, guru, murid dan orangtua.

Budaya positif erat kaitannya dengan aktivitas belajar sehari-hari, disitulah peluang bagi guru untuk membangun budaya positif yang berpihak pada murid dalam proses belajar mengajar. Terdapat 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2013) yaitu Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab. Dari 18 nilai-nilai tersebut sudah diintegrasikan dalam pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar melalui 4 Kompetensi Inti (Spiritual, Sosial, Pengetahuan dan Keterampilan).

Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa seorang guru adalah penuntun bagi anak atau murid-murid kita. Kita dapat menuntun mereka dalam mewujudkan budaya positif dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sebagai salah satu langkah awal yang dapat dilakukan dalam membangun budaya positif yaitu membuat keyakinan kelas. Keyakinan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif di kelas. Hal ini juga sesuai dengan nilai guru penggerak juga berpihak pada murid, bahwa kita membuat keyakinan atau kesepakatan kelas yang tidak dibuat oleh guru sendiri, melainkan melibatkan campur tangan anak-anak. Hal ini sekaligus mewujudkan kepemimpinan pada murid sebagai peran guru penggerak. Karena kita sebagai guru memberikan kesempatan pada murid untuk mengemukakan ide atau pendapat mereka tentang kelas impian mereka. Pada modul visi guru penggerak paradigma inkuiri apresiatif juga sebagai paradigma kolaboratif yang mengelola perubahan positif.

Sebagai guru penggerak yang sudah mendapatkan pengetahuan tentang membangun budaya positif, menurut saya hal penting yang dilakukan adalah memulainya dari diri sendiri dan memulai perubahan itu di kelas yang diajar/diampu. Diawali dengan membuat keyakinan kelas yang melibatkan murid dan diikuti dengan komitmen dan konsekuensi yang jelas. Selain itu secara perlahan kita mulai menunjukkan kepada rekan sejawat dan atasan kita tentang keberhasilan kita dalam membangun budaya positif di kelas. dengan contoh perubahan yang konkrit dan ditunjang dengan perubahan sikap yang signifikan pada murid, maka secara perlahan budaya positif yang kita tanamkan akan mengimbas kepada rekan sejawat untuk diterapkan dikelasnya masing-masing.

 

B.       Tujuan

Mewujudkan budaya positif merupakan salah satu visi yang wajib dimiliki sekolah, sekaligus menjadi visi bagi para pendidik di lingkungan sekolah tersebut dengan :

1.         Membangun hubungan positif dan lebih dekat antara guru dengan murid.

2.         Membiasakan murid menerapkan budaya positif sehingga menjadi karakter positif dan memiliki budi pekerti.

3.         Membentuk murid yang tercermin sebagai Profil Pelajar Pancasila.

4.         Membantu proses belajar mengajar sehingga lebih mudah dan tidak menekan murid.

 

C.      Tolak Ukur

Indikator bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik adalah jika ada perubahan baik dari sikap siswa dalam menerapkan keyakinan kelas :

1.         Murid menjadi aktif dan semangat belajar

2.         Guru dan murid saling menyayangi dan menghormati

3.         Guru dan murid saling peduli

4.         Guru dan murid saling konsisten dalam menjaga komitmen

 

D.      Linimasa Tindakan yang akan Dilakukan

Rincian dari tindakan aksi nyata yang dilakukan adalah :

1.         Minggu I (Sabtu, 18 Desember 2021)

Mengajukan gagasan/ide kepada Kepala Sekolah dengan mendiskusikan mengenai langkah konkrit yang akan diambil.

2.         Minggu II (Rabu s.d Jum’at, 5-7 Januari 2022)

a.    Membuat/mendesain keyakinan kelas untuk mewujudkan kelas impian dengan sistem demokrasi

b.    Berkomitmen bersama-sama untuk melaksanakan keyakinan kelas yang telah dibuat

c.    Menetapkan konsekuensi secara bersama-sama dengan kesepakatan yang telah dibuat

3.         Minggu III (Jum’at, 14 Januari 2022)

Melakukan pendekatan persuasif dan komprehensif dalam membangun budaya positif sekolah bersama rekan guru (berbagi praktik baik)

4.         Minggu IV (Selasa, 18 Januari 2022)

Melakukan evaluasi, refleksi terhadap pelaksanaan keyakinan kelas dan membuat rencana perbaikan untuk implementasi ke depan

 

E.       Dukungan yang Dibutuhkan

Pihak-pihak yang dibutuhkan adalah :

1.         Kepala sekolah, rekan guru, komite sekolah dan stake holder yang ada di sekolah.

2.         Orang tua sebagai pendamping murid dalam menerapkan budaya positif.

3.         Keterlibatan murid.

4.         Lingkungan masyarakat.

 

F.       Hasil dari Aksi Nyata (Pembelajaran yang Didapatkan)

Pembelajaran yang didapatkan dari hasil aksi nyata ini, terdapat 2 faktor diantaranya :

1.         Faktor Pendukung (keberhasilan), yang terdiri dari :

a.       Dukungan dari kepala sekolah dan seluruh warga sekolah

b.      Orang tua sebagai pendamping

c.       Usulan ide beserta harapan murid dapat terwujud, murid merasa didengar

d.      Harapan tentang kelas impian oleh murid

e.       Suasana belajar lebih efektif

 

2.         Faktor penghambat (kegagalan), yang terdiri dari :

a.       Karakteristik murid yang beragam

b.      Adaptasi dari budaya lama ke budaya baru membutuhkan proses dan waktu

c.       Butuh kebiasaan yang konsisten diterapkan oleh seluruh warga kelas

 

Ketika melakukan diseminasi praktik baik tentang penerapan budaya positif, terutama tentang membuat keyakinan kelas, terutama kepada rekan guru, saya mendapatkan beragam tanggapan. Tanggapan tersebut mulai dari yang meragukan tentang efektivitas penerapan membuat keyakinan atau kesepakatan kelas untuk diterapkan di kelas, sampai ada beberapa rekan sejawat yang akan mencoba menerapkan keyakinan kelas di kelas yang mereka ampu sebagai bagian dari penerapan budaya positif di sekolah. Selain itu juga terdapat tanya jawab dan memberi tanggapan mengenai penerepan segitiga restitusi yang didalamnya dapat memuat posisi kontrol apa yang dapat diterapkan seorang guru, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dasar anak sebagai manusia.

 

G.      Refleksi

Kaitannya dengan penerapan budaya positif di sekolah, saya awali dengan membuat keyakinan kelas di kelas yang saya ajar yaitu di kelas III SD Negeri Wonokarang. Sebelumnya saya jelaskan terlebih dahulu pada anak-anak tentang apa itu keyakinan kelas. Tentang kelas impian mereka dan apa yang akan dilakukan, serta dibiasakan selama satu semester kedepan. Harapannya adalah dari keyakinan kelas yang sudah dibuat bersama ini, akan menjadi suatu budaya positif di lingkungan sekolah kami.

Anak-anak nampak antusias dengan keyakinan kelas yang telah disepakati bersama. Untuk rekan sejawat, saya berbagi praktik baik melalui kegiatan sharing bersama, yaitu tentang saya melakukan dan menerapkan keyakinan kelas pada murid saya di kelas III. Tujuannya agar rekan-rekan saya juga ikut bersama menerapkan budaya positif yang dimulai dari kelasnya masing-masing. Selain tentang keyakinan kelas, saya juga berbagi praktik baik yang telah saya lakukan. Yaitu tentang Penerapan Segitiga Restitusi, Posisi Kontrol sebagai Guru dan tentang contoh Penerapan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak Melalui Permainan

 

H.      Rencana Perbaikan untuk implementasi ke Depan

Untuk rencana perbaikan implementasi ke depan, saya akan terus berusaha menggerakkan rekan-rekan guru, memotivasi agar terus melakukan perubahan yang lebih baik lagi yang berpusat pada anak, sesuai kodrat alam dan zaman. Serta benar-benar menggunakan posisi kontrol yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak, baik itu dilingkungan sekolah, rumah maupun masyarakat.  Tentunya melalui kolaborasi yang baik, antara guru dengan guru, guru dengan murid, guru dengan walimurid dan stakeholder lainnya. Tujuannya diharapkan dapat menciptakan Budaya Positif di Lingkungan Sekolah tersebut.


BERIKUT FOTO DOKUMENTASI HASIL AKSI NYATA BUDAYA POSITIF 


Membuat Keyakinan Kelas Bersama Murid Kelas III di SD Negeri Wonokarang :






Menerapkan Segitiga Restitusi dengan Posisi Kontrol sebagai Guru :





Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak sebagai Manusia melalui Permainan Tic Tac Toe:



Disemiansi Budaya Positif kepada Rekan Sejawat :

















Salam dan Bahagia

Guru Bergerak Indonesia Maju

Best Practices - Pembelajaran PBL (PPL Aksi 1 dan Aksi 2 PPG DALJAB Kategori 1 Tahun 2022)

  LK 3.1 Menyusun Best Practices Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice)   Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi...