MEMBUAT KEYAKINAN KELAS
DI KELAS III SD NEGERI WONOKARANG
SERTA BERBAGI PRAKTIK BAIK MELALUI DISEMINASI PADA REKAN SEJAWAT
Oleh :
NINDY PUSVITANINGTYAS, S.Pd.
SD NEGERI WONOKARANG
CGP ANGKATAN 4 KAB. SIDOARJO JAWA TIMUR
Link Youtube 1.4.a.10 Aksi Nyata https://youtu.be/FprSK2byxnY
A. Latar
Belakang
Sekolah adalah institusi pembentukan
karakter. Tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah “menuntun
segala kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya”.
Untuk mewujudkan hal tersebut, penting adanya penerapan budaya positif sekolah
dalam pembiasaan sehari-hari, untuk penanaman budi pekerti murid sebagai
pembentukan karakter. Budaya
positif sekolah adalah keyakinan, nilai-nilai dan asumsi dasar yang dianut oleh
warga sekolah. Budaya positif di sekolah tidaklah berdiri sendiri, melainkan
satu sama lain saling terintegrasi dan saling mempengaruhi. Membangun budaya
positif bukanlah hal yang mudah, karena diperlukan komunikasi dan kolaborasi
yang positif antara kepala sekolah, guru, murid dan orangtua.
Budaya
positif erat kaitannya dengan aktivitas belajar sehari-hari, disitulah peluang
bagi guru untuk membangun budaya positif yang berpihak pada murid dalam proses
belajar mengajar. Terdapat 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut
Kementerian Pendidikan Nasional (2013) yaitu Religius, Jujur, Toleransi,
Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat
Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Komunikatif, Cinta Damai,
Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab. Dari 18
nilai-nilai tersebut sudah diintegrasikan dalam pembelajaran Tematik di Sekolah
Dasar melalui 4 Kompetensi Inti (Spiritual, Sosial, Pengetahuan dan
Keterampilan).
Sesuai
dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa seorang guru adalah penuntun bagi
anak atau murid-murid kita. Kita dapat menuntun mereka dalam mewujudkan budaya
positif dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sebagai salah satu
langkah awal yang dapat dilakukan dalam membangun budaya positif yaitu membuat
keyakinan kelas. Keyakinan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan
budaya disiplin positif di kelas. Hal ini juga sesuai dengan nilai guru penggerak juga
berpihak pada murid, bahwa kita membuat keyakinan atau kesepakatan kelas yang
tidak dibuat oleh guru sendiri, melainkan melibatkan campur tangan anak-anak.
Hal ini sekaligus mewujudkan kepemimpinan pada murid sebagai peran guru
penggerak. Karena kita sebagai guru memberikan kesempatan pada murid untuk
mengemukakan ide atau pendapat mereka tentang kelas impian mereka. Pada modul
visi guru penggerak paradigma inkuiri apresiatif juga sebagai paradigma
kolaboratif yang mengelola perubahan positif.
Sebagai
guru penggerak yang sudah mendapatkan pengetahuan tentang membangun budaya
positif, menurut saya hal penting yang dilakukan adalah memulainya dari diri
sendiri dan memulai perubahan itu di kelas yang diajar/diampu. Diawali dengan
membuat keyakinan kelas yang melibatkan murid dan diikuti dengan komitmen dan
konsekuensi yang jelas. Selain itu secara perlahan kita mulai menunjukkan
kepada rekan sejawat dan atasan kita tentang keberhasilan kita dalam membangun
budaya positif di kelas. dengan contoh perubahan yang konkrit dan ditunjang
dengan perubahan sikap yang signifikan pada murid, maka secara perlahan budaya
positif yang kita tanamkan akan mengimbas kepada rekan sejawat untuk diterapkan
dikelasnya masing-masing.
B. Tujuan
Mewujudkan budaya positif merupakan
salah satu visi yang wajib dimiliki sekolah, sekaligus menjadi visi bagi para
pendidik di lingkungan sekolah tersebut dengan :
1.
Membangun hubungan positif dan lebih dekat
antara guru dengan murid.
2.
Membiasakan murid menerapkan budaya
positif sehingga menjadi karakter positif dan memiliki budi pekerti.
3.
Membentuk murid yang tercermin sebagai
Profil Pelajar Pancasila.
4.
Membantu proses belajar mengajar sehingga
lebih mudah dan tidak menekan murid.
C. Tolak
Ukur
Indikator bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik adalah jika
ada perubahan baik dari sikap siswa dalam menerapkan keyakinan kelas :
1.
Murid menjadi aktif dan semangat belajar
2.
Guru dan murid saling menyayangi dan
menghormati
3.
Guru dan murid saling peduli
4.
Guru dan murid saling konsisten dalam
menjaga komitmen
D. Linimasa
Tindakan yang akan Dilakukan
Rincian dari tindakan aksi nyata yang dilakukan adalah :
1.
Minggu I (Sabtu, 18 Desember 2021)
Mengajukan gagasan/ide kepada Kepala Sekolah dengan
mendiskusikan mengenai langkah konkrit yang akan diambil.
2.
Minggu II (Rabu s.d Jum’at, 5-7 Januari 2022)
a. Membuat/mendesain
keyakinan kelas untuk mewujudkan kelas impian dengan sistem demokrasi
b. Berkomitmen
bersama-sama untuk melaksanakan keyakinan kelas yang telah dibuat
c. Menetapkan
konsekuensi secara bersama-sama dengan kesepakatan yang telah dibuat
3.
Minggu III (Jum’at, 14 Januari 2022)
Melakukan pendekatan persuasif dan komprehensif dalam
membangun budaya positif sekolah bersama rekan guru (berbagi praktik baik)
4.
Minggu IV (Selasa, 18 Januari 2022)
Melakukan evaluasi, refleksi terhadap pelaksanaan
keyakinan kelas dan membuat rencana perbaikan untuk implementasi ke depan
E. Dukungan
yang Dibutuhkan
Pihak-pihak yang dibutuhkan adalah :
1.
Kepala sekolah, rekan guru, komite sekolah
dan stake holder yang ada di sekolah.
2.
Orang tua sebagai pendamping murid dalam
menerapkan budaya positif.
3.
Keterlibatan murid.
4.
Lingkungan masyarakat.
F. Hasil
dari Aksi Nyata (Pembelajaran yang Didapatkan)
Pembelajaran yang didapatkan dari
hasil aksi nyata ini, terdapat 2 faktor diantaranya :
1.
Faktor Pendukung (keberhasilan), yang
terdiri dari :
a. Dukungan
dari kepala sekolah dan seluruh warga sekolah
b. Orang
tua sebagai pendamping
c. Usulan
ide beserta harapan murid dapat terwujud, murid merasa didengar
d. Harapan
tentang kelas impian oleh murid
e. Suasana
belajar lebih efektif
2.
Faktor penghambat (kegagalan), yang
terdiri dari :
a. Karakteristik
murid yang beragam
b. Adaptasi
dari budaya lama ke budaya baru membutuhkan proses dan waktu
c. Butuh
kebiasaan yang konsisten diterapkan oleh seluruh warga kelas
Ketika melakukan diseminasi praktik baik tentang penerapan
budaya positif, terutama tentang membuat keyakinan kelas, terutama kepada rekan
guru, saya mendapatkan beragam tanggapan. Tanggapan tersebut mulai dari yang
meragukan tentang efektivitas penerapan membuat keyakinan atau kesepakatan
kelas untuk diterapkan di kelas, sampai ada beberapa rekan sejawat yang akan
mencoba menerapkan keyakinan kelas di kelas yang mereka ampu sebagai bagian
dari penerapan budaya positif di sekolah. Selain itu juga terdapat tanya jawab
dan memberi tanggapan mengenai penerepan segitiga restitusi yang didalamnya
dapat memuat posisi kontrol apa yang dapat diterapkan seorang guru, sehingga
dapat memenuhi kebutuhan dasar anak sebagai manusia.
G. Refleksi
Kaitannya dengan penerapan budaya
positif di sekolah, saya awali dengan membuat keyakinan kelas di kelas yang
saya ajar yaitu di kelas III SD Negeri Wonokarang. Sebelumnya saya jelaskan
terlebih dahulu pada anak-anak tentang apa itu keyakinan kelas. Tentang kelas
impian mereka dan apa yang akan dilakukan, serta dibiasakan selama satu
semester kedepan. Harapannya adalah dari keyakinan kelas yang sudah dibuat
bersama ini, akan menjadi suatu budaya positif di lingkungan sekolah kami.
Anak-anak nampak antusias dengan
keyakinan kelas yang telah disepakati bersama. Untuk rekan sejawat, saya
berbagi praktik baik melalui kegiatan sharing bersama, yaitu tentang
saya melakukan dan menerapkan keyakinan kelas pada murid saya di kelas III. Tujuannya
agar rekan-rekan saya juga ikut bersama menerapkan budaya positif yang dimulai
dari kelasnya masing-masing. Selain tentang keyakinan kelas, saya juga berbagi
praktik baik yang telah saya lakukan. Yaitu tentang Penerapan Segitiga
Restitusi, Posisi Kontrol sebagai Guru dan tentang contoh Penerapan Pemenuhan
Kebutuhan Dasar Anak Melalui Permainan
H. Rencana
Perbaikan untuk implementasi ke Depan
Untuk rencana perbaikan implementasi
ke depan, saya akan terus berusaha menggerakkan rekan-rekan guru, memotivasi
agar terus melakukan perubahan yang lebih baik lagi yang berpusat pada anak,
sesuai kodrat alam dan zaman. Serta benar-benar menggunakan posisi kontrol yang
tepat dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak, baik itu dilingkungan sekolah,
rumah maupun masyarakat. Tentunya
melalui kolaborasi yang baik, antara guru dengan guru, guru dengan murid, guru
dengan walimurid dan stakeholder lainnya. Tujuannya diharapkan dapat
menciptakan Budaya Positif di Lingkungan Sekolah tersebut.
BERIKUT FOTO DOKUMENTASI HASIL AKSI NYATA BUDAYA POSITIF
Membuat Keyakinan Kelas Bersama Murid Kelas III di SD Negeri Wonokarang :
Guru Bergerak Indonesia Maju